Sabtu, 30 April 2016

Penampilan Musikalisasi Puisi "SEJAK" Dari SMAN 1 GARUT Meraih Juara Pertama

SEJAK
Karya Nandang R. Pamungkas

sejak namamu
kujadikan mimpi dan gelisah

padang tak lagi menyimpan angin
hanya sunyi
awan tak lagi menyimpan hujan
hanya kabut
rumput tak lagi menarikan irama angin
hanya lumut

sejak namamu
kujadikan mimpi dan gelisah

sungai tak lagi mengalirkan air
hanya batu
malam tak lagi memberi purnama
hanya kelam
dan hari pun tak memberi senja
untuk melukis silhuet wajahmu yang gaib

meski padang tak lagi menyimpan angin
ilalang masih setia menunggui rembulan


Musikalisasi puisi SEJAK karya Nandang R Pamungkas yang dipersembahkan oleh SMAN 1 Garut ini begitu memukau, hingga tidak tanggung-tanggung lagi langsung meraih Juara Pertama. Suasana sendu yang disampaikan dalam puisi bisa terwakilkan oleh musik yang mengiringi ketika puisi dinyanyikan.

Selasa, 05 April 2016

CINTA DI UJUNG SAJADAH : KEYAKINAN YANG MENANGGUHKAN HARAPAN




Identitas Buku :
Judul                                     : Cinta Di Ujung Sajadah
Penulis                                 : Asma Nadia
Penerbit                              : AsmaNadia Publishing House
Tahun terbit                       : 2015
Tempat terbit                    : Kompleks Ruko D Mall Blok A No. 14 Jl. Raya Margonda, Depok
Cetakan                               :
·         Pertama, februari 2015
·         Kedua, April 2015
·         Ketiga, Juni 2015
·         Keempat, Agustus 2015
·         Kelima, Oktober 2015
Tebal buku                         : viii + 328 halaman
ISBN                                      : 978-602-9055-34-4
Sinopsis                               :

Namanya Makky Matahari Muhammad
dan Cinta menyimpan nama itu dengan baik di kepalanya.
Bukan karena salam yang diucapkan lelaki itu saat pertama bertemu.
Tetapi karena kehadirannya membawa pelangi dalam hidup Cinta.
Belasan tahun menjalankan hidup sebagai piatu, Cinta bahkan tidak tahu wajah ibunya.
Papa dengan sempurna melenyapkan setiap jejak perempuan terkasih itu. Saat Papa menikah dengan Mama Alia, dan membawa dua saudara tiri, Cinta makin tersisih.
Ketika surga terenggut dari hari-hari Cinta, lelaki itu hadir.
Makky Matahari Muhammad yang humoris namun santun itu mengenalkannya pada dunia lain yang memberi kebahagiaan. Hingga sebuah rahasia besar belasan tahun terbongkar, dan Cinta harus menempuh perjalanan jauh yang memisahkan mereka.
Sejumlah komentar :
Novel yang mampu memberikan porsi pada cinta, tanpa ada kedzaliman pada hati. Hingga cinta tak kenal galau (Hamid Zanath Zayn)
Cerita cinta apik yang lebar. Nggak melulu cinta sama sang Makky. Tapi juga cinta bunda dan keluarga, sahabat, dan of course cinta kepada Allah make me love this book :D (Linbud Binti Buyung)
Sungguh cerita yang menguras air mata. Tak bosa membaca novel ini berulang kali. Mengajarkan pembaca akan arti “surge di bawah telapak kaki ibu”. Menghibur sekaligus menjadi teladan bagi pembaca untuk selalu mendekatkan diri pada Tuhan. (Ocha Thalib)

Cerita yang diulas dalam novel ini begitu inspiratif dan sangat natural.  Kisah cinta yang dibagi secara apik dalam porsi yang wajar membuat novel ini begitu memukau dan terkesan sangat cantik.
Jika dilihat-lihat alur kisahnya memang sangat mirip dengan Cinderella ataupun bawang putih, namun tentu saja ada keunikan tersendiri yang membuat novel ini sangat begitu digemari.
Kisah yang diangkat berlatar kehidupan sehari-hari para remaja, persahabatan yang di lakoni “Cinta” sang tokoh utama sangat begitu kental disini. Karakter yang dibangun diantara Neta, Aisyah dan Cinta saling melengkapi satu sama lain. Saling membantu dan menyemangati merupakan nilai-nilai plus dalam kisah ini yang tampaknya kurang di sadari.
Kehadiran Mbok Nah sebagai tokoh tritagonis sangat membantu berlangsungnya alur kisah perjuangan Cinta. Beliau ditempatkan sebagai orang bijak dan pengganti sosok ibu untuk Cinta sendiri benar-benar membuat semakin terkesan.
Namun, pembaca juga terkadang dibuat gemas dengan kehadiran Anggun dan Cantik yang menghiasi wara-wiri konflik dalam novel. Apalagi saat adegan ‘tertentu’ (saya tidak bisa membocorkan kisahnya, takut spoiler hehe) membuat perasaan empati saya pun ikut tergugah. Hanya saja, yang membuat saya semakin tercengang lagi saat bunda Asma Nadia menyelesaikan permasalahan Cinta dengan inisiatifnya untuk berjilbab.
Saya akui kecerdikan dan kekreatifan mba Asma Nadia dalam memberikan adegan-adegan sederhana benar-benar membuat novel-novelnya yang sederhana ini tidak memiliki kesan dramatis. Dengan pengalaman yang begitu banyak, dan jam terbang yang tinggi membuatnya semakin menghasilkan karya yang berisi dan berbobot. Nilai-nilai spiritual yang tersebar setiap paragraph tidak terkesan memaksa bahkan menggurui.
Semua alur cerita terlihat dibiarkan mengalir secara alami. Ditambah lagi perbendaharaan kata dan penyusunan kalimat yang tinggi membuat semua kesederhanaan menjadi kata Wah!
Hanya ada satu yang kurang di hati saya. Entah ini dirasakan oleh yang lainnya atau tidak, tapi saya tetap kecewa dengan narasi ending yang dibiarkan menggantung.

Atau mungkin ini sebagian dari cirri khas beliau?